Wanita Menginspirasi Dari Kraton Solo yang Cerdas, Cantik dan Mandiri

Wanita Menginspirasi Dari Kraton Solo yang Cerdas, Cantik dan Mandiri image

Buat kamu yang pernah berkunjung ke Museum Ullen Sentalu Yogyakarta pasti udah nggak asing sama sosok yang mau kita bahas kali ini, karena di dalam museum ini ada sebuah ruang yang bernama Ruang Putri Dambaan yang khusus menceritakan tentang sosok dan cerita hidup perempuan istimewa dan menginspirasi; yang biasa disapa Gusti Nurul.

Pesona dan kecerdasan Gusti Nurul memang pantas sekali untuk diabadikan Squad, karena ternyata Indonesia punya sosok putri Jawa yang nggak hanya cantik tapi juga punya keteguhan hati yang luar biasa. She always knows what she want for her life, dan nggak pernah membatasi dirinya buat selalu belajar banyak hal—walau pun dia tumbuh di era dimana perempuan masih dianggap tidak pantas melakukan ini dan itu.

Hal yang paling mengagumkan adalah bagaimana Gusti Nurul lebih memilih melajang hingga usia 30 tahun dibanding harus menikah dengan pria yang memiliki prinsip hidup poligami. Simak cerita selengkapnya yuk!

Gusti Nurul yang lahir dari Ibu GKR Timoer Mursudariyah (putri sultan Jogja Hamengkubuwono VII), lahir di tahun 1921 dan bersekolah di sekolah Belanda, ini yang membuat Gusti Nurul punya pemikiran yang lebih open minded dibanding perempuan di zamannya. Gusti Nurul menolak budaya yang membiarkan perempuan hanya mengurusi urusan dapur semata--tanpa meninggalkan kodratnya sebagai seorang putri keraton Mataram.

Buktinya, nggak cuma pandai menari hingga dikirim ke Belanda, Gusti Nurul juga aktif dengan kegiatan luar rumah seperti berkuda, berenang, dan bermain tennis. Padahal buat perempuan di zaman itu, tabu banget melakukan hal-hal seperti itu Squad.

"Sejak kecil Gusti Nurul menolak pandangan bahwa perempuan hanya pantas mengurusi urusan dapur, baginya perempuan pun harus aktif bersosialisasi dan menjalankan hobi yang menjadi kegemarannya."

Beruntungnya, Gusti Nurul punya ayah yang mendukung banget kegemaran putrinya, bahkan sampai membelikan beliau kuda khusus yang dipesan dari Australia. Selain itu Gusti Nurul juga adalah salah satu pelopor berdirinya radio pertama di Indonesia, beliau bahkan aktif menjadi penyiar.

“Ratu Wilhelmina (Belanda) ngasih gelar De Bloem Van Mangkunegaran bagi Gusti Nurul, yaitu Bunga dari Mangkunegaran.”

Di usianya yang baru 15 tahun, Gusti Nurul diundang ke Belanda untuk menari di pernikahan Putri Juliana, uniknya, musik gamelan yang menyertai tarian Gustri Nurul diputar langsung dari Keraton Solo via teleconference. Terlihat bagaimana Gusti Nurul selalu menjalankan perannya sebagai putri kerajaan dengan baik, dan tumbuh seimbang dalam kebudayaan Indonesia juga kemodern-nan yang dia pelajari. Penolakannya untuk hanya berdiri di belakang, tidak membuat Gusti Nurul meninggalkan kodratnya sebagai perempuan Indonesia yang berbudaya. Gusti Nurul selalu mengenakan kebaya kemana pun dia pergi, walau ia juga sangat menyukai musik barat di zamannya, ia tetap pandai bermain gamelan dan menari.

"Bunga dari Mangkunegaran yang jadi rebutan banyak tokoh bangsa bahkan presiden Soekarno, betah melajang hingga usia 30 tahun untuk menikah dengan seorang pria sederhana dari kalangan rakyat biasa."

Mulai dari presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, Sultan HB IX, Sutan Sjahrir dan Djatikusumo yang saat itu menjabat sebagai panglima tentara mengagumi sosok Gusti Nurul. Namun spesialnya, nggak ada satu pun dari sosok negarawan itu yang bisa mendapatkan hati Gusti Nurul. Ini karena Gusti Nurul menolak keras untuk dipoligami. Baginya, tidak masalah menikah hingga usia yang tidak lagi muda (atau bahkan disebut perawan tua) dibanding harus melepaskan prinsip hidupnya, dan menikah dengan pria yang tidak bisa menjadikannya sebagai yang satu-satunya.

"Dari pemikirannya yang kritis ini banyak yang menganggap Gusti Nurul lah yang telah menginspirasi pangeran-pangeran Mataram selanjutnya untuk tidak berpoligami."

Pria sederhana yang akhirnya berhasil meminang Gusti Nurul justru adalah RM Soerjo Soejarso yang adalah seorang duda militer beranak satu dengan pangkat letnan kolonel. Gusti Nurul menikah di usia yang tidak muda untuk zamannya, yaitu 30 tahun, bayangin Squad, Gusti Nurul nggak peduli dengan pandangan bahwa perempuan harus menikah muda dan langsung memiliki anak. Gusti Nurul bahkan sempat kesulitan memiliki keturunan di awal pernikahannya, hingga membuatnya harus mengangkat anak. Di usianya yang ke-33 tahun barulah Gusti Nurul melahirkan anak perempuan pertamanya.

"Bagi Gusti Nurul, menemukan pasangan yang sehati dan sejiwa jauh lebih penting. Selepas menikah Gusti Nurul memilih untuk mengikuti tugas sang suami dan keluar dari keraton. Gusti Nurul dan RM Soerjo hidup hingga menutup usia di Bandung."

Gusti Nurul sendiri tutup usia pada tahun 2015 lalu di usia 94 tahun Squad. Sosoknya yang cantik, cerdas, dan berprinsip selalu jadi inspirasi bagi siapa pun yang pernah mengenalnya. Jadi nggak perlu kita galau kalau belum ketemu jodoh kita, selagi kita yakin kita punya kualitas sebagai perempuan Indonesia yang berkarakter dan berbudaya :D

“Keluar dari istana demi menikahi pria sederhana yang jadi dambaan hati, memperjelas sosok Gusti Nurul yang berperinsip dan tulus.”

Gimana nih, kamu punya pandangan sendiri nggak sih soal peran perempuan Indonesia di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun ini? Perempuan Indonesia yang ideal tuh yang kaya gimana? Sambil mikir boleh juga lho sambil baca the latest blog dari AMAZARA soal gimana tipsnya biar bisa keluar dari comfort zone-mu, tap this link now!

Dilansir dari berbagai sumber; detik.com/merdeka.com/kaskus/ullensentalu

Written by Fa

Latest Posts