CARA BIKIN ONLINE SHOP MESKIPUN NGGAK PEDE BANGET

CARA BIKIN ONLINE SHOP MESKIPUN NGGAK PEDE BANGET image

Tau nggak Squad,

Pertumbuhan online shop & eCommerce di Indonesia adalah yang tercepat dibanding China, Jepang, Korea dan India? Padahal saat ini diperkirakan baru 1% market Indonesia yang terbiasa belanja online. Kebayang nggak, ke depannya dunia online shop ini bakal segimana besarnya?

Pengen punya olshop juga sih, tapi buat mulai aja rasanya nggak pede banget karena nggak punya produk yang cukup oke :(

Our founder, kak Uma Hapsari, akan share beberapa hal dalam menjalani fase 'nggak pede' selama membangun Amazara. Karena yang kamu lihat saat ini dari Amazara adalah hasil, bukan proses.

Saat ini Amazara memang sudah menjual ribuan sepatu tiap bulannya. Tapi siapa yang sangka kalau awalnya website & instagram Amazara menjual parfum KW, Wardah kosmetik dan hem pria yang semuanya adalah brand orang lain? Jadi, Amazara 'cuma' reseller aja. Usaha itu sempat gagal karena web & instagram Amazara tidak menghasilkan penjualan sama sekali.

Calon customer cuma pada nanya doang, tapi ujung-ujungnya batal karena harga di reseller lain lebih murah. Dari situlah kak Uma punya ide untuk bikin brand sendiri saja, yang harga dan modelnya bisa di setting sesuka hati.

Di awal nggak perlu muluk-muluk. Coba jual produk dari pemasok yang kamu sudah kenal saja.

Awalnya, Amazara nggak tahu sama sekali cara bikin sepatu. Kita cuma titip bikin sepatu ke orang yang kita kenal saja, tanpa paham kualitas. Sepatu pertama dijual seharga Rp 89.000 - Rp 125.000. Setelah difoto dan di upload ke Instagram, ternyata mulai ada yang beli loh, Squad! Sayangnya, separuhnya jebol dalam beberapa kali pemakaian aja :(

Pastilah customer komplain. Setelah minta maaf, Amazara coba kasih solusi dengan menawarkan produk pengganti yang kualitasnya lebih baik. Saking takutnya, kita juga menawarkan uangnya ditransfer kembali. Duh, malu banget!

"Tapi mau se-malu apapun, we have to keep going. Giving up is not a choice"

Di luar prasangka kita, sebagian besar customer yang tadinya kecewa malah memberikan banyak feedback yang membagun. Ternyata customers hanya berharap agar komplain ditangani dengan cepat, dan ada bentuk pertanggung jawaban sepenuh hati dari penjual.

Dari situ kita baru paham bahwa inti dari sebuah bisnis bukanlah produknya, tetapi customernya.

Amazara memang nggak punya produk 'sempurna' dari awal. Tapi nggak apa-apa, karena kita sudah mulai punya customer yang bisa dimintai feedback. Demi customerAmazara bertekad untuk non-stop meningkatkan kualitas produk. Buat kamu yang ngikutin Amazara sejak awal mungkin bisa merasakan kenaikan kualitas sepatu yang kita jual. Semuanya butuh proses, dan saat ini masih berproses juga. Masih gagal juga. Masih belum pede juga.

Rasa malu itu sangat manusiawi, kok. Malahan bisa jadi hal positif buat perkembangan brand.

Perasaan nggak pede itu fungsinya banyak, terutama sebagai sinyal kalau ada suatu hal dari kita yang tidak bisa diterima masyarakat. Nah kalau mau produk kamu diterima, kamu harus berani malu dan berani berbenah. Dengan begitu, kita akan berproses untuk menjadi lebih baik. Proses itulah yang membangun karakter kita. Bukan untuk bisa hilang rasa malunya, tetapi untuk bisa punya karakter 'never give up'.

Untuk menjadi percaya diri, kita harus terlibat dalam suatu proses.

Jangan berhenti punya rasa malu supaya nggak lengah dan selalu punya drive yang kuat untuk belajar. Metode ini sebenernya bukan sekedar opininya Amazara kok, Squad! Ada teori dan bukunya loh. Namanya teori Lean StartUp. Artinya, mau mencoba dengan modal seadanya. Jika proses ini dilanjutkan terus menerus, suatu ketika usaha kamu akan tumbuh dan berkembang menjadi brand yang dicintai oleh customer.

Mau sebagus apapun produk kita.. selalu ada langit diatas langit. Jangan terlalu pede dan lupa kalau kita masih punya banyak hal untuk dipelajari :)

 

- Written by Uma Hapsari, Founder & CEO Amazara

Latest Posts