Alasan Kenapa Pemimpin Should Invest on Doing The Right Thing, Menurut Uma Hapsari

Alasan Kenapa Pemimpin Should Invest on Doing The Right Thing, Menurut Uma Hapsari image

Last night, my Customer Service Manager kasih kabar bahwa salah satu CS bakal keluar sebelum kontraknya habis. Alasannya klise: karena semakin kesini, dia ngerasa bahwa apa yang dia kerjakan nggak sesuai sama passion dan latar belakang pendidikannya, yaitu bidang IT.

Spontan saya ngerespon dengan perasaan kesal. Kalau tahu kaya gini, nggak perlu kami effort susah-susah kasih training. Lebih baik training orang lain dengan komitmen yang lebih jelas.

Biasanya saya nggak semudah ini jadi kesal. But this thing really gets into my nerve, mungkin karena emang saatnya aja yang nggak tepat. Pekerjaan lagi banyak banget.

Jadi dengan emosi saya balas WhatsApp CS Manager saya :

Dari kata-kata saya, you may think I am a monster. Tapi saya sengaja nunjukin ini karena I want to show you the stress and reality of being an entrepreneur / a leader. I am not an angel and I do make mistakes. I get lost too. Just like you, sama kaya pengusaha atau pemimpin lainnya.

"Sebagai manusia biasa, saya pun bisa marah, emosi dan sedih. Apalagi ketika kerjaan sedang banyak-banyaknya kaya gini."

Can I give up for once?

Consider this : saya dan suami bertanggung jawab for at least 100 employees dibisnis toko modern kami di Jogja. Kalau di AMAZARA sendiri, ada sekitar 70 orang. Katakanlah separuhnya aja punya suami / istri dan satu anak, artinya ada lebih dari 350 orang bergantung pada salary dari bisnis kami. Each of this employee berharap biar perusahaan bisa ngasih gaji yang selalu lebih tinggi tiap bulannya.

"Kepercayaan ini bikin saya semangat, tapi ini juga kewajiban yang sangat berat. Karena kalau pemimpin nggak perform sampe perusahaannya rugi, harus bilang apa saya ke mereka semua?"

Tekanan buat seorang pemimpin bukan dateng dari materi. Sejujurnya, money never motivates me. Yang bikin saya kerja tiap hari adalah passion dari team saya. Saya yakin banyak juga pemimpin di luar sana yang setuju sama hal ini.

Dengan semua pressure yang ada, kadang-kadang saya juga pengen nyerah. Capek ngejaga hati buat selalu emotionally stable dan jadi teladan yang baik. Saya rasa perasaan kaya ginilah yang bikin pemimpin bisa ngelakuin eksekusi yang kedengerannya kejam dan tega.

But last night I learnt 2 important lessons :

  1. It’s okay to accept myself not to be right all the time because I am only human
  2. We must invest on the right thing. The right thing will save us when we are not being the right one

Now I am about to explain what happened after my mean WhatsApp message. Manager CS saya telepon jam 11 malam. Although his voice was shaking, his very first sentence was clear, tegas dan sedikit gusar, “Aku nggak setuju dengan keputusan mba Uma.”

Kemudian, dia mulai membicarakan tentang apa yang bakal terjadi seandainya si CS yang ngundurin diri sebelum kontrak itu akan di-cut dengan tiba-tiba. “Tim yang udah kita bangun susah-susah ini bakalan keteteran, Mba. Kasihan CS yang lain. Belum lagi ini malah bakal jadi contoh buruk. Kesannya jadi kalau mau keluar ya keluar aja asal setelah gajian. Bisa kan?”

"I was surprised with the way he handled this situation. Then I became so proud karena punya tim yang willing to stand for something right, even if it is against his boss."

Dia juga mengingatkan hal baik yang pernah kami bahas dulu. Bahwa saya sendiri yang bilang, if someone decided to go… it’s their decision and it’s up to them. Dan itu sama sekali nggak salah kok. Mungkin karena emang AMAZARA nggak cukup baik, atau bukan jodoh yang cocok buat si karyawan yang pergi.

Setelah telepon ditutup, saya malah nangis baper bahagia. Kedengerannya lebai ya? Tapi sebagai pemimpin, ngelihat orang yang dipimpin berhasil tumbuh dengan karakter yang kuat itu rasanya lebih puas dari apapun.

"I must have done the right thing in the past."

This morning saya banyak berfikir. Daripada fokus ngasih punishment, kita harus fokus pada offering reward. Hal-hal kaya pengalaman kerja, bonus, mentoring, kesempatan. Nggak mau kan punya tim yang stick with us karena takut dihukum aja?

"So if you ask me, how to build a successful teamwork? One of the key is: invest on doing things you believe to be right. Cause the right thing will save you from the faults you will make today and tomorrow."

If you are an entrepreneur of a leader, unfortunately you may always have employees who think like this : bahwa si bos suka negur dan marah-marah karena nggak peduli sama karyawannya. Meskipun kenyataannya justru sebaliknya.

I know some (a lot, actually) bosses who think like a mother:

"Seorang Ibu nggak akan keberatan kalau harus dilabelin galak dan cerewet… asalkan dia bisa ngebangun karakter anak-anaknya dengan baik. Why? Because she believes it is the right thing to do :)"

And I hope we all believe in the right thing, buat bisa ngebangun teamwork yang baik. If you have any question atau mau sharing soal teamwork dan leadership silahkan share di kolom komentar ya :)

Cheers!

Uma Hapsari, founder of Amazara

Latest Posts